HIKMAH SHOLAT DHUHA

ASSLMUALAIKUM, SAUDARAKU, BAGI MAHASISWA PGSD FKIP UNTAN KHUSUSNYA DAN  SELURUH MAHASISWA  GUNAKAN LAH WAKTU LAUNG MU UNTUK MELAKSANAKAN SUATU AMALAN YANG AMAT RINGAN DAN TIDAK MEMBUAT KITE BUANG WAKTU LAMA-LAMA PASTI ANDA KETAGIHAN KALAW UDAH MENCOBA AYU BELOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN  (FASTABIQUL KHOIROT)!!!!!

APAKAH AMALAN nya COBA SIMAK TULISAN BERIKUT :

SHALAT DHUHA Shalat Dhuha adalah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu matahari sedang naik setinggi kurang lebih 7 hasta sampai tergelincirnya (kira-kira antara jam 07 sampai jam 11). Shalat ini dilakukan Rasulullah SAW minimal dua rakaat, dan maksimal dua belas raka’at dengan salam setiap dua rakaatnya. Abu Hurairah r.a berkata: “kekasihku Rasulullah SAW berpesan kepada saya supaya berpuasa tiga hari tiap-tiap bulan (puasa ayyaaamul biidh tgl 13, 14 dan 15 di bulan-bulan Hijriyah), dan Shalat Dhuha dua raka’at dan Shalat witir sebelum tidur” (HR. Bukhari dan Muslim). Aisyah r.a berkata:” Rasulullah SAW biasa melaksaNakan Shalat Dhuha empat raka’at, dan kadang-kadang melebihi dari itu sekehendak Allah.” (HR. Ahmad, Muslim dan Ibnu Majalah). Dalam riwaYat lain: “Bahwa Nabi SAW mengerjakan Shalat Dhuha sebanyak delapan raka’at dan tiap-tiap dua raKa’at bersalam.” (HR. Abu Daud) dari Anas r.a ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang Shalat Dhuha dua belas raka’at, niscaya Allah akan dirikan gedung baginya di surga.” (HR. Turmudzi) Adapun di antara fadhilah (keutamaan) Shalat Dhuha adalah sebagai penganti shadaqah, diampuni dosa-dosa orang yang menjalankan dan diluaskan rizkinya. Rasulullah bersabda : “Siapa saja yang dapat mengerjakan Shalat Dhuha dengan langgeng akan diampuni diampuni dosanya oleh Allah, sekali dosa itu sebanyak busa lautan.” (HR. Turmudzi) Dalam hadist Qusdi, Nuwas bin Sam’an ra menuturkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Wahai Anak Adam, jangai sekali-kali engkau malas mengerjakan empat raka’at pada waktu permulaan siang (yakni Shalat Dhuha), nanti pasti kucukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR. Hakim dan Thabrani) Dari Abu Dzar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda : “hendaklah masing-masing kamu tiap-tiap pagi bershadaqah untuk persendian badannya. maka itap kali bacaan tasbih bacaan tasbih (subhanallah) itu shadaqah, tiap tahmid (alhamdulillah) itu shadaqah, setiap tahlil (laa ilaaha Illallah) itu shadaqah, menyuruh kebaikan dan melarang kejahatan itu shadaqah, dan sebagai ganti itu semua, cukuplah mengerjakan shalat dhuha dua rakaat.” (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Daud) # Cara Melaksanakan Shalat Dhuha : Shalat Dhuha minimal dua rakaat dan maksimal duabelas rakaat, dilakukan secara Munfarid ( tidak berjamaah ), caranya sebagai berikut: * > Niat didalam hati berbarengan dengan Takbiratul Ihram * > “Aku niat shalat sunah Dhuha 2 rakaat karena Allah” * > Membaca doa Iftitah * > Membaca surat al Fatihah * > Membaca satu surat didalam Al-Quran. Afdholnya rakaat pertama surat Asy-Syams dan rakaat kedua surat Al-Lail * > Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali * > I’tidal dan membaca bacaanya * > Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali * > Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaannya * > Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali * > Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali. * Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas. Do’a Shalat Dhuha : Yaa Allah, bila rejekiku ada dilangit turunkanlah, Bila ada didalam bumi keluarkanlah, Bila ada didalam lautan munculkanlah, Bila jauh dekatkanlah, Bila sukar mudahkanlah, Bila sedikit perbanyaklah, Bila haram sucikanlah….

http://ssoehardi.blogspot.com/2009/02/hikmah-sholat-dhuha.html

AYO JANGAN LEWATKAN SEMUA SISA UMUR KITA, KECUALI UNTUK MENGGGAPAI RIDO ILAHI

TETAP SEMANGAT ALLOHUAKBAR…………..

YA ALLAH BERIKAN KAMI KEISTIQOMAN UNTUK SELALU MENJALNKAN SHOLAT DHUHA

BY : SUANDI MURSALIN MUHAMMAD

Bentar lagi pemilihan kepengurusan baru belum ada calon nh!!!!!!

milad formasi di undur 31 oktober dan takliq akbar tanggal 1 nopember dengan pemateri ust emilyadi S.Ag

Pendidikan Anak dalam Perspektif Islam

PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM

Hadirin rahimakumullah,

Dalam bulan-bulan Juni dan Juli seperti sekarang ini, orang-orang tua yang memiliki anak usia sekolah  di negeri kita ini biasanya dihadapkan pada persoalan memilih sekolah bagi anak-anaknya. Masalahnya bukan hanya menyangkut persoalan biaya sekolah yang semakin hari semakin mahal, tetapi juga berkaitan dengan kriteria sekolah yang diharapkan dapat memberikan pendidikan yang terbaik bagi masa depan anaknya. Berkaitan dengan hal tersebut, pada kesempatan MTQ  ini, khususnya pada cabang Syarhil Qur’an, kami ingin menyampaikan pemikiran kami dalam sebuah tema: Pendidikan Anak dalam Islam. Sebagai landasan pembahasan ini, marilah kita simak firman Allah SWT dalam surah At-Tahrim ayat 6 yang akan dilantunkan oleh rekan kami berikut ini.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Hadirin rahimakumullah,

Dalam menafsirkan ayat ini, Quraish Shihab dalam tafsirnya Al Missbah menyimpulkan bahwa dakwah dan pendidikan dimulai dari rumah tangga. Secara tradisional atau hukum asalnya perintah ini ditujukan kepada kaun pria sebagai kepala keluarga. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan peran-peran orang tua maka perintah ini juga berlaku untuk kaum perempuan (Ibu).

Hadirin rahimakumullah

Pandangan Islam yang menempatkan keluarga sebagai pilar utama pendidikan anak sangat realistis karena anak lahir, tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga. Oleh sebab itu, peletakan dasar-dasar keimanan, pembiasaan melaksanakan ibadah serta pendidikan akhlaq, termasuk juga penyemaian dasar-dasar keilmuan  sewajarnya dilakukan di keluarga. Wajarlah kalau ada yang menyebutkan bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Dengan demikian, lembaga pendidikan formal atau sekolah maupun pendidikan nonformal seperti kursus-kursus pada hakikatnya hanyalah membantu sebagian tugas-tugas orang tua. Namun, tanggung jawab utama tetap berada pada keluarga. Mengingat hal itu,  maka keluarga atau orang tua juga dihadapkan pada keharusan memilih sekolah yang tepat buat anak-anaknya.  Pada era yang yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang ini , banyak orang tua yang menempatkan keunggulan akademik sebuah sekolah sebagai syarat utama dalam memilih sekolah buat anak-anaknya.  Pertimbangan itu memang tidak sepenuhnya salah,. Namun, bila hal itu dijadikan satu-satunya kriteria tentu  tidak sejalan dengan upaya untuk mendidik anak menjadi manusia yang kaffah dalam beragama.

Hadirin, rahimakumullah

Terkait dengan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang memberikan andil yang cukup besar dalam perkembangan anak maka sekurang-kurangnya  ada beberapa kriteria yang dijadikan dasar bagi orang tua dalam memilih sekolah untuk anaknya. Pertama, apakah jam pelajaran agama cukup memadai dalam kurikulum sekolah. Kedua, apakah lingkungan  pergaulan di sekolah cukup kondusif bagi pengamalan nilai-nilai keislaman. Ketiga, apakah ada program kegiatan ektrakurikuler sekolah yang menunjang pendalaman dan pengamalan ajaran Islam. Kriteria tersebut penting untuk diperhatikan karena disadari dalam era sekarang ini banyak orang tua yang tidak punya kesempatan dan kemampuan untuk memberikan pendidikan agama secara memadai kepada anaknya, Di samping itu, orang tua juga tidak dapat setiap saat mengontrol anaknya baik ketika berada di sekolah maupun pergaulannya di luar sekolah. Apabila kriteria yang kamiu sebutkan tadi tidak diperhatikan maka orang tua termasuk tidak khawatir dengan peringatan Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, dan Majusi.

Orang tua pasti tidak mungkin menjadikan anaknya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, tetapi bila salah memilih sekolah sebagai lingkungan pendidikan anaknya, bukan mustahil anaknya akan berubah menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi baik secara langsung atau setidak-tidaknya menampilkan sikap –sikap seperti orang Yahudi, Nasrani, dab Majusi.

Hadirin rahimakumullah,

Masalah pendidikan anak sangat sentral dalam keluarga, karena bila salah mendidik atau salah asuh maka orang tualah yang pad akhirnya akan menanggung resikonya. Hal ini telah diingatkan Allah SWT melalui  firmannya dalam surah At- Tagabun, ayat 14-15 berikut ini.

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Berdasarkan asbaabun nuzul turunnya ayat ini, Quraish Shihab menyimpulkan bahwa ayat ini mengingatkan orang-orang beriman bahwa sesungguhnya di antara istri atau suami, walaupun mereka menampakkan kecintaan yang luar biasa, juga anak-anak kamu, walaupun mereka menunjukkan kasih sayang dan kebutuhan yang besar kepada kamu, bisa menjadi musuh bila mereka dapat memalingkan kamu dari tuntunan agama atau bila mereka menuntut sesuatu yang yang berada di luar kemampuan kamu sehingga akahirnya kamu melakukan pelanggaran ajaran agama.

Hadirin rahimakumullah,

Penjelasan Quraih Shihab menyangkut kandungan ayat-ayat tadi, realitasnya sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pelaku korupsi tidak jarang melakukan tindakan terlarang itu karena terdorong untuk mengikuti keinginan istri atau anak yang telanjur berpola hidup mewah, berpoya-poya dan bergaya hedonis. Akhir-akhir ini pun sering diberitakan anak-anak menganiaya  orang tuanya bahkan membunuh orang tuanya hanya karena keinginannya tidak dipenuhi. Sungguh suatu keadaan yang mengerikan, nau’zubillahi minzalik, tsummanauzubillahi minzalik.

Hadirin, rahimakumullah

Dalam ayat 15 surah At-Tagabun yang telah kita dengar tadi, Allah SWT juga telah menegaskan bahwa harta dan anak-anak hanyalah cobaan. Setiap orang tua yang diberikan anugrah anak oleh Allah SWT pada dasarnya sedang dicoba oleh Allah SWT untuk dilihat kemampuannya mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan Allah. Pertanggungjawaban itu dalam kehidupan di dunia ini diwujudkan dalam bentuk pemberian pendidikan yang baik bagi anak sejak di lingkungan keluarga, berlanjut di lingkungan sekolah, termasuk juga dalam bentuk pengawasan pergaulan anak di masyarakat. Apabila hal ini dapat ditunaikan dengan baik maka insya Allah orang tua akan mendapatkan anak yang shaleh sebagai asetnya dunia dan akhirat. Karena berdasarkan hadis Rasulullah SAW, anak yang shaleh inilah yang dijamin dapat menolong orang tua setelah yang bersangkutan meninggalkan dunia yang fana ini.

Hadirin rahimakumullah

Dari uraian yang telah kami sampaikan dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut. Pertama, dalam ajaran Islam pendidkan pertama dan utama berada pada di lingkungan keluarga. Kedua, tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak juga dimanifestasikan dengan memilih sekolah yang tepat bagi nak-anaknya. Ketiga, apabila orang tua salah mendidik anak maka tidak mustahil  anak akan berkembang menjadi tidak baik dan akan merongrong kehidupan orang tua dan keluarga Ketiga. Korang tua bertanggung jawab dunia akhirat dalam pendidikan anak.

By : Tim Syahril Qur,an MTQ XI Aceh 2009

Mengambil Ibroh dari 2 Hewan


Belajar dari semut  dan lebah


Siapa yang tak kenal dua hewan ini, dari namanya saja kita sudah merasa tidak asing lagi mendengarnya, timbul pertanyaan besar pada benak kita ?apakah benar kata orang bahwa hewan ini bisa memberi pembelajaran terbesar untuk kita semua ? ayo kita lihat!!!!

Banyak hikmah yang kita ambil dari hewan  ciptaan Allah, salah satunya dua hewan ini yang Allah himpunkan dalan nama surah dalam Alqur’an yaitu semut (Annaml) dan lebah,(Annahl). Semut dan lebah merupakan hewan kecil yang sangat berpengaruh pada kehidupan manusia, baiklah hikmah dari dua binatang ini akan penulis paparkan

  1. Semut

Semut merupakan binatang kecil yang sangat menjunjung tinggi kerjasama tim, ketika seekor semut bertemu dengan sebuah makanan maka ia dengan cepat memberitahu teman yang lain untuk mengangkat makanan tersebut dan semut sangat patuh pada pemimpin nya, ketika pemimpin bilang A maka prajurit akan patuh dengan apa yang disuruh pemimpinnya

Semut juga sangat bagus dalam manajemen organisasinya, mereka juga punya perencanan yaitu punya target yang jelas, ketika raja semut ingin mendapatkan makanan maka apa yang diniatkannya pasti berhasil.

Untuk memperoleh makanan maka semut juga punya  tim khusus yang siap diterjunkan kapan pun dan di manapun, tugasnya yaitu mencari sisa –sisa makanan yang ada, jika ketemu maka ia akan memberitahu kepada teman-teman yang lain, istilahnya  dalam kemiliteran disebut intel.

Tingkat kedisiplinan semut sangat tinggi, tanpa disiplin maka suatu perencanaan tidak akan sukses. Ini yang sangat penting, sikap disiplin pada semut dapat kita lihat dari proses mengangkat makanan, tak ada satu pun dari semut yang lari dari tugas berat ini, mereka tetap bersama-sama dan sangat disiplin sekali

Kerja keras merupakan ciri khas dari semut, makanan yang besar bisa diangkat walaupun tak sesuai dengan ukuran semut itu sendiri, dan tak  ada kata putus asa dalam diri semut itu, semut punya sifat pantang menyerah walaupun dilihat secara kasat mata beban itu berat.

Pribadi yang di bangun semut sangat baik untuk dicontoh oleh kita sebgai manusia, pribadi-pribadi yang kuat dan tidak mengenal lemah, dan sabarlah yang selalu di kedepankan, sejalan dengan itu Allah mengaskan dalam Alqur’an

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.(Q.SAl-Imran 146)
2.Lebah

Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan

kenikmatan kepada manusia. Ada antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim. Madu berasal dari bermacam-macam sari (lihat ayat persamaan 69). Sedang Al Quran mengandung inti sari dari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat

Hewan yang satu ini banyak sekali manfaatnya untuk makhluk hidup. Kita harus berterimakasih dengan lebah karena lebah sangat menghasilkan maslahat luar biasa bagi seluruh alam. Dalam Alqur,an Allah SWT Berfirman

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”,

kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (Annahl 68-69)

Surah ini jelas sekali bahwa pada lebah itu bisa menghasilkan madu yang mana dari madu itu bisa menymbuhkan berbgai penaykit pada manusia

Hewan  lebah  merupakan contoh yang baik untuk kita ambil pelajaran yaitu bagaimana kita bisa bermanfaat untuk orang lain

Sayyid Qutb mengatakan”orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil.tetapi orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.

.Dari makanan yang diambil jadi kita sebagai makhuk Allah yang sangat mulia harus mencontoh lebah, yaitu makan dari makanan yang baik dan halal, karena dalam AlQur’an Allah menegaskan”

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.(Q.S Al-Baqarah 168)

Dengan makan makanan yang halal lagi baik maka hati  kita akan senatiasa terjaga dengan hal-hal yang buruk. Dan insyaAllah pekerjaan yang kita lakukan juga akan baik.

Pada diri lebah juga sangat tinggi sifat disiplin nya, jundi –jundi sangat patuh pada qiyadahnya, wasami’na dan waato’na ( kami dengar dan kami taat) inilah kata-kata  yang dipegang oleh para lebah.mereka sangat menghargai pemipinnya, dan memang ini yang diajarkan dalam islam, kita harus taat pada pemmipin-pempinpin kita, Allah berfirman

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka[1045] ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S Annur 51)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Anisa 59)

Fenomena ini beda dengan kita sebagai manusia, kadang kita sering membantah pemimpin-peminmpin kita, maka yang timbul adalah perselisihan yang membuat kita tidak bisa menghasilkan hal-hal yang lebih besar.tidak patuhnya rakyat pada pemimpin merupakan ciri dari kehancuran umat, kalau kita balik kebelakang bagaimana kepemipian Rasulullah, Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Azis maka sangatlah jauh dari kepemipinan-kepemimpinan yang ada sekarang. Sekarang rakyat tidak patuh  lagi pada pemimpin dan pemimpin pun tidak sedikit yang bengis terhadap rakyatnya. Kalau kita mau maju maka contohnya para sahabat-sahabat Rasullulah yang selalu patuh dengan perintah dan hormat kepada Rasulullah.

Hikmah yang selanjutnya yang ada pada lebah adalah sikap tolong menolong , selaras apa yang Allah maktubkan dalam Alqur’an yaitu :

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Almaidah ayat 2)

Lebah saja menjunjung tolong menolong, ini dapat kita lihat dari saling menjaga dan  dari kejahilan musuh-musuhnya,maka mereka akan bergantian dalm mempertahankan madu –madu nya.

Kemudian pada diri lebah juga sangat kuat ikatan perasudaraanya, dan sangat sayang terhadap sesamanya, dari persaudaraan yang kuat iniah maka timbul tekad yang kuat untuk bekerjasama dan membanggun hal yang lebih besar, memang ini juga Allah perintahkan dalam suarah Alhujurat yang artinya

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat ( Al- Hujurat 10)

Dan kekompakan timlah yang bisa membuat mereka menghasilkan manfaat yang besar buat manusia dan tidak kata berpecah belah, sesuai Firman Allah SWT
Al-Imran 103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.(Q.S Al-Imran 103.)

Dan  yang tak kalah pentingnya pada diri lebah adalah membiasakan hal-hal yag indah dan rapi, dari susuanan prajurit –prajurit yang menjaga madu-madunya maka akan terlihat susunan yang indah dan memukau manusia yang melihatntya, jadi kita sebagai hamba Allah yang berakal haruslah lebih rapi dan indah dari binaang ini, dan memang islam menganjurkan untuk kita hidup indah. Allah berfirman dalam sura As Ssshaf ayat 4

”Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.

Nah dari penjelasan diatas maka sebaiknya kita harus bannyak berfikir dan merenung apakah kita sudah sebaik semut atau lebah dan apakah kita masih belum memberikan manfaat untuk orang lain, maka jadilah kita makhluk yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Aristoteteles berujar”Manusia ideal adalah gembira dengan pekerjaan yang ia lakukan demi kepentingan orang lain dan sangat malu jika orang lain melakukan pekerjaan yang menjadi tugasnya.sebab memberi belas kasihan pada orang lain sebuah tanda ketinggian nilai, sedang menerima belas kasihan orang lain petunjuk tentang kegagalan”.wasslam

By ; Suandi

Mengapa Memilih PGSD

MENGAPA PENDIDIKAN GURU SD PALING DIMINATI
Oleh
Darmawan
(staf adm. jurusan Ilmu pendidikan FKIP Unila)
Pagi itu mentari sudah bersinar, akupun keluar rumah untuk mencari surat kabar, walaupun hari itu libur tapi rasanya kurang sreg kalau belum membaca berita di koran. Dilangganan saya biasanya saya mendapatkan surat kabar, akan tetapi pagi itu saya buru-buru karena ingin melihat penguruman SNMTPN, sayapun mampir dan bertanya ”mang masih ada koran” tanya saya, Si penjualpun kesana kemari dan iapun balik bertanya kepada isterinya dibelakang ”bu koran masih ada gak, ada yang mau beli” dari kejauhan isterinyapun bilang ”abis mas’. Mendengar ucapan tersebut dalam hatipun aku menjawab ”ya uda kalau gitu”. Akhirnya akunpun mencari ketempat yang lain, dan kebetulan ditempat penjualan tersebut masih ada sisa 2 lagi yang belum laku, akupun mengambil satu dan langsung kubawa pulang.
Koran tersebut aku bolak balik karena aku mencari berita yang paling top/hangat hari ini, dan hampir semua halaman terisi pengumuman hasil test SNMPTN, dan juga ada beberapa PTS yang menawarkan menerima mahasiswa baru. Setelah kuamati dan teliti diantara berita yang paling hangat hari itu adalah tentang hasil test pengumuman SNMPTN, dan diantara berita tersebut terdapat peminat dan beberapa program studi yang ditawarkan di Perguruan Tinggi Unila, ternyata diantara peminat yang paling banyak melamar yaitu program studi S1 PGSD FKIP, dan di susul jurusan bahasa inggris sebagai peringkat kedua, peringkat ketiga yang juga banyak peminatnya adalah fakultas kedokteran.
Dari hasil penelusuran penulis, memang beberapa tahun terakhir ini program S1 PGSD FKIP Unila selalu paling banyak digemari, tentunya hal ini bukanlah peserta SNMPTN asal pilih program studi, dan pasti dibenak hati mereka lulusan PGSD kelak tentu cepat mendapat pekerjaan, bila dibandingkan dengan program studi yang lain. Memang kalu kita perhatikan setiap ada penerimaan PNS tentu formasi gurulah yang banyak peluangnya, hal ini dapat kita lihat tenaga pendidik mendapatkan perioritas yang cukup banyak bila dibandingkan dengan formasi lain, selain itu tenaga guru tersebut banyak dibutuhkan mengingat di daerah-daerah terpencil masih banyak kekurangan guru, dan bahkan penulis pernah baca dikoran, bahwa di desa itu hanya terdapat kepala sekolah saja yang pns, sedangkan yang lain masih tenaga honorer.
Menyikapi tentang minat para lulusan SMA banyak yang memlilih profesi sebagai tenaga pendidik, khsususnya pada pendidikan guru SD, tentu hal ini dilatar belakangi faktor-faktor tertentu, diantaranya ; pertama tingginya tingkat kesejahteraan guru saat ini sehinggo mendorong lususan SMA untuk memilih profesi ini. Kedua, guru dianggap paling banyak peluang menjadi pns, sehingga dibenak mereka kelak kalau lulus pendidikan guru cepat mendapat pekerjaan dan tidak perlu nganggur cukup lama dan itupun bisa honor dulu. Ketiga, tersedianya sekolah-sekolah yang dapat menampung mereka setelah lulus, walupun itu masih status honor, yang jelas mereka bisa mengabikan ilmunya di sekolah tersebut. Keempat, profesi guru merasa terhormat dan diharga dilingkungan masyarakat. Kelima pendidikan guru merupakan pendidikan yang mulia karena bisa terapkan dalam mendidik keluarga dan diluar lingkungan keluarga. Keenam, perhatian pemerintah tentang nasib guru dengan adanya Sertifikasi guru, sehingga kesejahteraan masa pensiun mereka akan lebih terjamin.
Dengan dasar tersebut diatas, mungkin salah satu faktor yang membuat para lulusan SMA sehingga memilih pendidikan guru SD sebagai pilihan profesinya. Hal ini dapat dibuktikan dalam seleksi nasional SNMPT di Unila tahun 2009, dimana pendidikan guru SD menempati urutan pertama yang paling diminati dengan jumlah pelamar 1.923 orang dari kuota kursi yang diterima 30 mahasiswa. Hal ini membuktikan persaingan perebutan kursi di perguruan tinggi Unila cukup ketat mencapai 1,56 persen, artinya dari 100 orang yang mendaptar hanya satu orang yang diteirma, demikian yang dikatakan oleh Ketua panitia SNMPTN Wilaya I, ”Hasriadi Mat Akin” .
Sebagi informasi bahwa tahun ini jumlah mahasiswa yang memilih Perguruan Tinggi Negeri Unila sebanyak 32.354 orang, sedangkan alokasi total mahasiswa yang diterima berjumlah 1.966 orang.
——————————————-
Ditulis oleh Darmawan
Staf jurusan Ilmu Pendidikan KFIP Unila.

Saudaraku Jadi melihat paparan diatas bruntunglah kita yang Allah takdirkan bisa lulus di PGSD FKIP UNTAN ini, dan sebgai tanda syukur kita marilah kita isi kegiatan hari2 kita dengan kegiatan yang bermanfaat dan membantu memperjuangkan agama ALLAH yang haq ini,semoga kita termasuk hamba yang pandai bersyukur Amin ( Ketua Formasi)

Ruhul Jadid Ba’da Ramdhan

Bagaimana Setelah Ramadhan?

﴿ ماذا بعد رمضان  ؟ ﴾

]  Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي

Penyusun : Muhammad Iqbal Ahmad Gazali

Editor : Tim Islamhouse.com

2009 – 1430

﴿ ماذا بعد رمضان  ؟ ﴾

« باللغة الإندونيسية »

تأليف: محمد إقبال غزالي

مراجعة: الفريق الإندونيسي

2009 – 1430

بسم الله الرحمن الرحيم

Bagaimana setelah Ramadhan?

Dengan nama Allah I Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah I yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya al-Qur`an, di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, dan amal ibadah dilipat gandakan pahalanya. Shalawat dan salam kita haturkan kepada manusia terbaik sepanjang masa, penutup para nabi, Muhammad r, juga para sahabat, keluarga dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Perjalanan waktu tanpa terasa, berlalu begitu cepat tanpa bisa ditunda sedetik juapun. Bulan Ramadhan yang sangat mulia sudah berakhir tanpa bisa tertahan sesaat pun. Bulan yang penuh berkah, saat yang paling pas untuk menggali ibadah dan meminta ampun serta bertaubat kepada Allah I sudah pergi meninggalkan kita semua hingga tahun berikutnya. Sementara kita tidak pernah mengetahui, apakah Ramadhan tahun depan masih sempat kita nikmati bersama keluarga dan orang-orang yang kita cintai? Apakah bulan puasa tahun berikutnya masih mungkin kita rasakan keindahannya dengan sedapat mungkin memperbanyak ibadah dengan berpuasa, membaca al-Qur`an, shalat Tarawih, bertaubat dan istighfar kepada Allah I? Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari sanubari kita seperti ini, memang tidak ada yang pernah mengetahui jawabannya selain Allah I tempat kita menyembah dan meminta.

Sudah menjadi keharusan, bahwa setiap yang datang, pasti akan berlalu. Demikian pula halnya bulan Ramadhan, ia pun pergi seiring dengan sirnanya bulan di atas langit yang kita lihat setiap malam. Bulan diawali dengan bulan sabit yang terlihat begitu kecil di ufuk Barat, lalu bertambah besar sedikit demi sedikit setiap malam, hingga menjadi purnama di pertengahan bulan. Setelah itu, ia pun kembali mengecil dan sirna di akhir bulan hingga tidak tampak lagi bersama-sama kemilau bintang yang tetap bersinar gemerlapan  hingga akhir zaman dengan ijin Allah I.

Bulan Ramadhan sesungguhnya menjadi saksi atas segala amalan yang kita kerjakan selama ini, apakah itu berupa keburukan dan maksiat, ataukah ibadah dan amal shaleh. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita melakukan intropeksi mulai saat ini, melakukan muhasabah terhadap segala hal yang sudah kita lakukan di bulan Ramadhan yang telah berlalu. Agar Ramadhan tahun ini tidak berlalu begitu saja seperti Ramadhan-Ramadhan sebelumnya.

Ada beberapa amalan yang mesti terus kita lakukan selepas bulan Ramadhan, baik yang wajib maupun yang sunnah, dan itulah yang akan kita bahas dalam kesempatan ini:

  1. 1. Menunaikan zakat Fitrah:

Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan di dalam Islam berupa satu sha’ (gantang) makanan yang harus dikeluarkan setiap muslim di akhir bulan Ramadhan dan sebelum dilaksanakan shalat ‘ied, sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah I dalam berbuka puasa dari Ramadhan dan menyempurnakannya, oleh karena itu juga dinamakan fitrah. Zakat fitrah ini diwajibkan pada tahun kedua Hijriyah, yaitu bersamaan dengan tahun diwajibkannya puasa bulan Ramadhan. Perbedaan zakat fitrah dengan zakat-zakat lainnya adalah, bahwa zakat fitrah merupakan penyucian (pembersih) badan, sedangkan zakat-zakat yang lain merupakan penyucian pada harta. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas t, beliau berkata:

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ. فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

Rasulullah r mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor dan memberi makan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (Shalat Ied) maka ia adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka ia termasuk sedekah.” HR. Abu Daud dan Ibnu Majah.[1]

Adapun kadar zakat fitrah yang harus dikeluarkan adalah satu sha’ (gantang), yaitu sama dengan 2,40 Kg. atau 3,5 liter yang diberikan kepada orang-orang fakir di negeri ia berada. Hal ini berdasarkan sabda Nabi r yang diriwayatkan Ibnu Umar t, ia berkata:

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ اْلفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ, الذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى, الصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ.

Rasulullah r mewajibkan zakat fitrah satu sha’ dari korma atau satu sha’ gandum kepada setiap budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin. Dan beliau memerintahkan agar dikeluarkan setelah keluarnya manusia menuju shalat.” Muttafaqun ‘alaih.[2]

  1. 2. Selalu menjaga shalat fardhu berjamaah:

Selama bulan Ramadhan, kita sudah membiasakan diri untuk selalu terikat dengan masjid. Setiap kali suara azan dikumandangkan, kita ayunkan langkah kaki untuk mengerjakan kewajiban shalat bersama-sama dengan kaum muslimin secara berjamaah. Ketika Ramadhan telah berakhir, hendaknya muncul semangat baru yang berawal dari kebersihan hati dan jiwa. Energi besar ini harus terus menerus kita jaga, hingga tibanya Ramadhan berikutnya. Jika semangat itu tetap terjaga, kita akan semakin mudah melaksanakan shalat berjamaah, terlebih lagi pahala shalat berjamaah ini sangat besar, sebagaimana yang disabdakan Nabi r dari Abdullah bin Umar t, bahwasanya Nabi r bersabda:

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً.  وَفِى رِوَايَةٍ : بِخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Shalat berjamaah lebih baik dari shalat sendirian dua puluh derajat.”  Dan dalam satu riwayat: “Dua puluh lima derajat.”Muttafaqun ‘alaih.[3]

Dan dalam hadits yang lain, Rasulullah r bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيْضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ, كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيْئَةً وَاْلأُخْرىَ تَرْفَعُ دَرَجَةً.

Barangsiapa yang berwudhu di rumahnya, kemudian berjalan menuju salah satu rumah Allah I (masjid), untuk menunaikan salah satu kewajiban Allah I, niscaya salah satu langkahnya menggugurkan dosa dan yang lain meninggikan derajat.”[4]

Abu Hurairah t juga meriwayatkan dalam hadits yang lain, bahwa Nabi r bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ, أَعَدَّ اللهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ.

Barangsiapa yang pergi ke masjid, di pagi hari atau di sore hari, niscaya Allah I menyiapkan sorga sebagai tempat tinggalnya, setiap ia berangkat di pagi hari atau di sore hari.” Muttafaqun ‘alaih.[5]

  1. 3. Melaksanakan shalat sunnah rawatib dan shalat-shalat sunnah lainnya:

Kita telah mendapatkan tarbiyah yang sangat berharga dari madrasah Ramadhan. Salah satunya adalah memperbanyak ibadah shalat-shalat sunnah seperti tarawih, witir, dan tahajjud. Dan setelah Ramadhan berakhir, hendaklah semangat yang telah kita peroleh dari madrasah Ramadhan itu jangan ikut pergi bersama berlalunya bulan Ramadhan.

Adapun di antara keutamaan shalat sunnah tersebut adalah:

  1. Sunnah rawatib: yaitu shalat yang dilaksanakan sebelum atau sesudah shalat fardhu: Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah r bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يُصَلِّى ِللهِ  كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيْضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ, أَوْ إِلاَّ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

‘Tidak ada seorang hamba yang melaksanakan shalat karena Allah I setiap hari sebanyak dua belas rekaat selain yang fardhu, kecuali Allah I membangun untuknya satu rumah di surga, atau melainkan dibangun untuknya satu rumah di surga.” HR. Muslim.[6]

Sunnah-sunnah tersebut adalah 4 rakaat sebelum zuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 2 rakaat setelah magrib, 2 rakaat setelah isya, dan 2 rakaat sebelum subuh, semuanya berjumlah 12 rakaat. Sunnah rawatib yang paling utama adalah dua rakaat sebelum shalat Subuh, dan sunnah rawatib ini boleh dilaksanakan di masjid dan boleh pula di rumah, dan yang lebih utama adalah di rumah, berdasarkan sabda Nabi r:

… فَصَلُّوْا أَيُّهَا النَّاسُ فِى بُيُوْتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةَ.

Laksanakanlah shalat di rumahmu, wahai manusia, maka sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat fardhu.” Muttafaqun ‘alaih.[7]

  1. Shalat Tahajjud: yaitu ibadah shalat yang dilaksanakan di malam hari dan Allah I memerintahkan kepada Rasul-Nya r agar selalu melaksanakannya: Firman Allah I:

يَآأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ 0 قُمِ الَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً 0 نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً 0 أَوْزِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلاً

Hai orang yang berselimut (Muhammad), * bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), * (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, * atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (QS. Al-Muzammil :1-4)

Dan firman-Nya:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS. Al-Israa`:79)

Dan Rasulullah r pernah ditanya tentang shalat yang paling utama setelah shalat fardhu, beliau menjawab:

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ الصَّلاَةُ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ.

Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat di tengah malam.” HR. Muslim.[8]

  1. Shalat Witir: yaitu shalat yang dilaksanakan setelah shalat Isya hingga terbit fajar yang kedua. Sekurang-kurangnya satu rekaat dan sebanyak-banyaknya sebelas atau tiga belas rekaat.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: أَوْصَانِي خَلِيْلِى بِثَلاَثٍ, لاَ أَدَعُهُنَّ حَتّى أَمُوْتَ: صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلاَةُ الضَّحَى وَنَوْمٌ عَلَى وِتْرٍ.

Dari Abu Hurairah t, ia berkata, ‘Kekasihku (Rasulullah r) berpesan kepadaku dengan tiga perkara, aku tidak akan meninggalkannya hingga mati: puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur setelah shalat witir.” Muttafaqun ‘alaih.[9]

Ini adalah sebagian dari keutamaan shalat sunnah rawatib dan shalat sunnah yang lainnya. Di samping itu masih banyak shalat-shalat sunnah lainnya yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan, seperti shalat Dhuha, shalat Istikharah, shalat gerhana dan yang lainnya. Wallahu A’lam.

  1. 4. Membaca al-Qur`an:

Salah satu tarbiyah selama madrasah Ramadhan yang telah kita jalani adalah membaca al-Qur`an. Kita harus mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah I, karena selama bulan Ramadhan, sebagian besar dari kita telah berhasil mengkhatamkan al-Qur`an minimal satu kali, atau paling tidak kita telah mampu membaca sekian juz dan surah selama bulan al-Qur`an yang mulia ini. Hal itu merupakan hidayah dan taufik yang tidak terhingga yang telah dianugerahkan Allah I kepada kita.

Setelah berlalunya bulan yang mulia ini, muncul satu pertanyaan singkat, bagaimana setelah Ramadhan? Akankah energi membaca al-Qur`an yang sudah kita dapatkan selama bulan Ramadhan akan kita biarkan lepas dari kita setelah berlalunya bulan Ramadhan? Tentu kita tidak menghendaki hal seperti itu. Sedangkan satu hari masih tetap seperti biasa, yaitu 24 jam.

Saudara seiman, kalau dalam sehari kita mampu membaca majalah, surat kabar, atau bahan bacaan lainnya sekian halaman banyaknya, kenapa kita tidak berusaha untuk melakukan hal yang sama terhadap al-Qur`an? Padahal al-Qur`an adalah sumber pedoman hidup kita yang pertama, di samping hadits-hadits Rasulullah r sebagai sumber yang kedua. Cobalah kita membacanya paling tidak sekadar satu atau dua ayat sebelum atau sesudah shalat fardhu, tentu lebih baik lagi kalau kita bisa melakukan lebih dari itu. Setelah itu, cobalah kita membaca terjemahannya dan melakukan tadabbur (perenungan, penghayatan) terhadap ayat yang telah kita baca. Kalau itu bisa kita lakukan, kita akan bisa merasakan betapa indahnya agama Islam yang kita anut ini. Kalau kita membaca atau mendengar cerita orang-orang mendapat hidayah untuk memeluk Islam, sebagian besar dari mereka mendapatkan cahaya iman dari al-Qur`an yang penuh dengan nur Ilahi.

Sebagian kaum muslimin, pada saat ini, telah jauh dari al-Qur`an yang merupakan petunjuk paling utama dalam mengarungi kehidupan. Sementara para musuh Islam berusaha keras untuk menjauhkan kaum muslimin secara personal maupun kelompok dari al-Qur`an. Dalam buku ‘Rencana Penghapusan Islam dan Pembantaian Kaum Muslimin di Abad Modern‘ yang ditulis oleh Nabil bin Abdurrahman al-Mahisy/13, disebutkan bahwa Jal Daston selaku perdana menteri Inggris mengemukakan bahwa selama al-Qur`an masih berada di tangan kaum muslimin, Eropa tidak akan bisa menguasai negara-negara Timur.

Merupakan satu keharusan bagi setiap muslim untuk selalu berinteraksi aktif dengan al-Qur`an, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir, dan bertindak. Membaca al-Qur`an merupakan langkah pertama dalam berinteraksi dengannya, dan untuk menggairahkan serta menghidupkan kembali gairah dan energi kita dalam membaca al-Qur`an, berikut ini adalah sebagian di antara keutamaan al-Qur`an dan membacanya:

Firman Allah I:

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (QS. Al-Israa`:9)

Hadits Rasulullah r yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Utsman bin ‘Affan t, Nabi r bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya.”[10]

Dan dalam hadits lain, dari Abu Umamah al-Bahili t, Rasulullah r bersabda:

اِقْرَءُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ…

Bacalah al-Qur`an, maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada ahlinya.” HR. Muslim.[11]

Semoga Allah I memberi hidayah dan taufik kepada kita semua, serta memudahkan langkah kita untuk kembali kepada Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya r.

  1. 5. Melaksanakan puasa-puasa sunnah:

Kita telah melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan yang baru saja berlalu. Dan setelah bulan penuh berkah itu meninggalkan kita seiring perjalan waktu, hendaklah kita tidak meninggalkan ibadah puasa sunnah yang dianjurkan kepada kita di luar bulan Ramadhan. Di antara puasa-puasa sunnah dan keutamaannya adalah sebagai berikut:

  1. Puasa enam hari bulan Syawal: Rasulullah r bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ.

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian meneruskannya berpuasa enam hari bulan Syawal, nilainya sama seperti berpuasa setahun penuh.”HR. Muslim.[12]

  1. Puasa hari Arafah, yaitu hari ke sembilan di bulan Dzulhijjah: Rasulullah r pernah ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, beliau bersabda:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَاْلبَاقِيَةَ

Ia menebus (dosa-dosa) tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.”[13]

  1. Puasa hari ‘Asyura, yaitu berpuasa pada tanggal sepuluh bulan Muharram. Dan dianjurkan pula berpuasa di hari ke sembilannya, agar berbeda dengan kaum Yahudi: Rasulullah r pernah ditanya tentang puasa hari ‘Asyura`, beliau menjawab:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Ia menebus (dosa-dosa) satu tahun sebelumnya.”[14]

  1. Puasa hari Senin dan Kamis, dan puasa hari senin lebih kuat dari segi dalil: Rasulullah r pernah ditanya tentang puasa di hari Senin, beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَبُعِثْتُ فِيْهِ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ

Itulah hari kelahiranku, dan aku dibangkitkan atau diturunkan (al-Qur`an) kepadaku.”[15]

  1. Puasa tiga hari setiap bulan pada tanggal 13, 14, 15 yang disebut puasa hari-hari putih, karena selama tiga hari itulah bulan purnama bersinar terang: dari Abu Dzarr t, beliau berkata:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ أَنْ نَصُوْمَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ: ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ.

Rasulullah r memerintahkan kami berpuasa tiga hari setiap bulan: hari ke 13, 14, dan 15.”[16]

  1. 6. Taubat dan Istighfar kepada Allah I:

Bulan Ramadhan yang mulia adalah bulan ampunan dan kebebasan dari api neraka. Di bulan yang penuh berkah itu, kita tentu telah memohon ampunan kepada Allah I atas segala dosa dan kesalahan yang pernah kita lakukan semasa hidup kita. Namun setelah Ramadhan berakhir, bukan berarti kita berhenti meminta ampun dan bertaubat kepada Allah I. Justru kita selalu dianjurkan agar senantiasa memohon ampunan dan terus bertaubat kepada Allah I. Banyak sekali perintah agar kita selalu bertaubat dan istighfar, baik yang terdapat di dalam al-q`an atau pun dalam sunnah-sunnah Rasulullah r, dan di antaranya adalah: firman Allah I:

وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nuur:31)

Dan firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, …”. (QS. At-Tahrim:8)

Rasulullah r bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِى اْليَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ.

‘Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah I dan mintalah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak seratus kali.’HR. Muslim.

Ayat dan hadits di atas dengan jelas memerintahkan kepada kita agar selalu bertaubat dan istighfar kepada Allah I atas segala kesalahan yang pernah kita lakukan. Rasulullah r di samping menyuruh kita, beliau juga selalu bertaubat dan meminta ampun kepada Allah I sampai seratus kali setiap hari. Lalu bagaimana dengan kita sudah sangat banyak melakukan kesalahan dan dosa sepanjang hidup kita.

Saudara seiman, ada beberapa faedah yang bisa kita peroleh dengan selalu bertaubat dan istigfar, selain sebagai suatu kewajiban, di antaranya yang terpenting adalah yang difirmankan Allah I:

وَمَاكَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَاكَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun”. (QS. Al-Anfaal :33)

Abu Musa al-Asy’ari t ketika memberikan komentar terhadap ayat di atas, beliau mengatakan, ‘Kami bisa merasa tenang pada masa hidup Rasulullah r, karena kami yakin dengan pasti bahwa Allah I tidak akan pernah menurunkan azab-Nya kepada kami selama beliau r masih berada di tengah-tengah kami. Namun, setelah beliau telah tiada, tidak ada lagi yang bisa menahan turunnya azab Allah I kecuali kalau kita senantiasa meminta ampun kepada-Nya.’  Wallahu A’lam.

Demikianlah beberapa perkara yang perlu diketahui dan diamalkan setelah berlalunya bulan Ramadhan, semoga Allah I memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita agar bisa memahami dan mengamalkannya. Amin.

Muhammad Iqbal Ahmad Gazali


[1] Hasan/ HR. Abu Daud no. 1609, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan Abu Daud no. 1420, dan Ibnu Majah no. 1827, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1480.

[2] HR. al-Bukhari no. 1503, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 984 dan 986.

[3] HR. al-Bukhari no. 645 dan 646, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 650 dab 649.

[4] HR. Muslim no. 666.

[5] HR. al-Bukhari no. 662, dan Muslim no. 669, ini adalah lafazhnya.

[6] HR. Muslim no. 728.

[7] HR. al-Bukhari no. 731, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 781

[8] HR. Muslim no. 1163.

[9] HR. al-Bukhari no. 1178, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 721.

[10] HR. al-Bukhari no. 5027

[11] HR. Muslim no. 804

[12] HR. Muslim no. 1164

[13] HR. Muslim no. 1164 dan 197

[14] HR. Muslim no. 1164 dan 197

[15] HR. Muslim no. 1164 dan 197

[16] Hasan/ HR. an-Nasa`i  4/222, at_Tirmidzi no. 761, dan Ibnu Hibban no. 3647 dan 3648. at-Tirmidzi berkata: ‘Ini adalah hadits hasan’.