Cara Memilih Pemimpin yang Tepat

Dalam suatu majelis, terjadi dialog antara rasulullah dengan para sahabat. Rasulullah saw menyampikan, jika amanah telah hilang (tidak dipegang dengan teguh), tunggulah saat kehancurannya.

Sahabat bertanya, ya rasul, bagaimana seseorang bisa menghilangkan amanah itu?, rasul saw menjawab, bila suatu urusan (amanah) diserahkan kepada orang ang bukan ahlinyam tunggulah saat kehancurannya,.(hr. Bukhari)…..

Hadis rasulullah saw itu menenggarai hilangnya amanh, terutama disebabkan suatu urusan yang dipegang, ditangani, atau dikelola oleh yang bukan ahlinya, yaitu yang tidak mengenal dan menguasi bidang pekerjaannya. Dalam sistem ajaran islam, ini maslah fundamental, karena amanah menyangkut urusan dan nasib orang banyak.

Dalam manajemen modern, hadis nabi saw tadi mendorong kaum muslimin agar dalam mengelola sesuatu, berorientasi kepada asas profesionalitas. Ketika adegium inggris mengisyaratkan perlunya tje right man, in the right place, in the right time, sesungguhnya isla telah jauh lebih dini menggarisbawahinya, 14 abad yang silam.

Persoalannya, di lapangan sering terjadi orang yang sebetulnya tepat mengemban amanah, justru tak dipilih dan dipercaya masyarakat. Dalam memilih dan menentukan orang untuk suatu urusan tertentu, nalar dan objektivitas kita justru sering tergadaikan untuk mengabdi pada kepentingan jangka pendek.

Ini biasanya lebih karena faktor-faktor askriptif, yaitu faktor kenisbatan. Misalnya, karena yang mau dipilih itu masih ada hubnungan famili, suku, tetangga sekampung, se almamater, sama ormas dan partai.

Pada saat yang sama, faktor kompetensi, yaitu kecakapan, kemampuan, dan kejujuran, menjadi terabaikan. Islam mewajibkan kita agar dapat menciptakan dan membuka peluang hanya kepada mereka yang kompeten, kapabel, dan kredibel.”sesungguhnya allah menuruh kamu menyampakan amanat kepada yang berhak menenrimanya”,(qs: annisa:58).

“hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena allah, menjadi saksi dengan adil. Dan jangan sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada allah, sesungguhnya allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”(qs:amaidah:8).

Kaum muslimin indonesia harus bersatu membuat barisan yang kokoh untuk memilih orang-orang yang diyakini mampu mengurus 220 juta manusia. Inilah kesemaptan emas kita merubah nasib bangsa sebagaimana yang diwasiatkan alqur’an (qs arra’d: 11) agar menjadi lebih sejahtera.

Iklan