Pesan Perubahan di Tahun Baru 1431 H dan Tahun 2010 M

Oleh: Ulfiani Rahman, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin

Memasuki tahun baru Islam 1431 H, yang berdekatan dengan tahun baru 2010 Masehi, syarat dengan pesan karut-marut moral/akhlak “anak negeri”. Betapa tidak, di tangan sebagian para “pengendali-pengendali negeri” yang hanya memikirkan dirinya sendiri tersebut uang rakyat digerus tanpa rasa bersalah.

Sungguh suatu tragedi yang memilukan sebab kesenjangan di sekitar kita menganga seakan sulit untuk ditutup (ada yang sangat kaya, ada juga yang sangat miskin). Hal itu jelas terasa aneh mengingat negeri ini memiliki sumber daya alam yang sangat kaya.

Apakah itu akibat sistem yang berlaku dalam kehidupan berbangsa kita tidak dirancang untuk membuat penduduknya menjadi tuan di negerinya sendiri akibat dari sistem yang ditanamkan oleh penjajahan Belanda selama ratusan tahun?

Apapun jawabnya, hal itu jelas menjadi sebuah hal yang ironi. Betapa tidak, masyarakat yang menamakan dirinya miskin justru semakin memperburuk keadaannya dengan berprofesi sebagai peminta-minta, baik dari rumah ke rumah ataupun berkeliaran di jalan-jalan protokol sehingga mereka dapat membuat rumah yang jauh lebih baik dari masyarakat yang berpenghasilan secara wajar setiap bulannya.

Sejalan dengan fakta di atas, maka peringatan hari antikorupsi sedunia yang jatuh setiap 9 Desember, kali ini menjadi sangat istimewa sebab sekarang lagi marak-maraknya memperbincangkan harta gono gini negeri yang banyak hilang dan diduga dinikmati orang-orang tertentu.

Hadirnya berbagai elemen masyarakat pada hari antikorupsi tersebut mengingatkan kita pada 11 tahun silam atau tepatnya tanggal 21 Mei 1998, di mana seluruh masyarakat bersatu padu merapatkan barisan untuk satu tujuan, memperbaiki nasib bangsa dari status quo penguasa yang hampir-hampir sulit tergantikan dengan melanggengkan berbagai kebijakan yang hanya memanipulasi kesejahteraan padahal sesungguhnya penuh dengan kebohongan yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya yang tidak berdosa.

Sehingga, muncul jargon reformasi yang ingin mengembalikan nilai-nilai luhur bangsa yang termuat di dalam Pancasila dan UUD 45 secara utuh dan konkret. Perjuangan 11 tahun silam tersebut telah melahirkan empat kali pergantian presiden beserta kabinet dan kebijakan-kebijakan strategisnya masing-masing.

Namun ternyata, saat ini, arti reformasi harus direformulasi sebab tampak keluar dari substansi perjuangan, di mana nilai-nilai kebhinekaan hampir tercabik- cabik oleh oknum anak bangsa yang tidak bertanggung jawab dengan alasan menguji integritas dan kesiapan para pengaman bahkan mengkhawatirkan dengan semakin rendahnya tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemimpin bahkan ulama.

Nah, jika demikian adanya, ke mana masyarakat harus mencari perlindungan jika hukumpun sudah tidak lagi memiliki keberpihakan pada keadilan, sebab pelaku peradilanpun justru menjadi incaran pengadilan?

Oleh karena itu, memasuki tahun baru Hijriyah 1431 ini hendaknya dapat direnungi kehadirannya sebagai perjalanan yang tidak sekadar berganti tahun, atau dimaknai sebagai pergantian seluruh isi rumah (perabotnya), dari baju lama ke baju baru, atau dari rumah lama ke rumah baru untuk menghilangkan berbagai kesialan hidup seperti yang diyakini, lalu dilakukan oleh sebagian masyarakat kita.

Bahkan tahun baru hijriyah begitu bermakna sebab bukan berdasarkan pada kelahiran Nabi Muhammad saw seperti kelahiran Isa dalam kalender Masehi, lalu peringatan hari Imlek terkait kelahiran Konghucu.

Bukan pula pada kehidupan penting Nabi Muhammad saw seperti peristiwa Isra Mikraj, turunnya wahyu pertama ataupun pada perang Badar dan Uhud. Tetapi tahun baru hijriyah didasarkan pada hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Mekah ke Medinah yang diusulkan oleh Ali bin Abi Thalib lalu disetujui dan ditetapkan oleh Umar bin Khattab kemudian digunakan oleh umat Islam pada tahun 17 H dan bertepatan dengan tahun 638 M.

Jika dilihat secara substansi, maka hijrah itu sendiri merupakan titik pemisah antara Mekah dan Medinah dan menjadi titik awal perjuangan Nabi Muhammad saw menyebarkan Islam secara terbuka. Di sini pula menjadi titik pemisah antara yang hak (benar) dan yang bathil (salah); antara syirik dan tauhid; dan antara umat jahiliyah dan umat berhidayah.

Adanya kesadaran bersama memerangi berbagai keculasan sebagian pemimpin bangsa ini patut terus dipupuk dan dipertahankan sebab sama artinya sedikit demi sedikit mengurangi munculnya perilaku amoral yang berkelanjutan.

Tekanan yang diberikan akan dapat memberikan sumbangan semangat bahwa betapa negeri ini harus dibangun dengan modal bersih sehingga mungkin Tuhan akan mengirimkan keindahannya selalu pada umat manusia secara utuh.

Dengan demikian, hijrah artinya berpindah bukanlah diartikan secara fisik semata tetapi perubahan yang jika dilihat dari sisi pendidikan maka berarti perlu perubahan dari beberapa aspek. Yaitu, secara kognitif bahwa perubahan yang ada adalah pola pikir di dalam melihat berbagai persoalan bangsa seperti bagaimana mengikis keserakahan dan ketamakan untuk tidak mengambil hak orang lain secara illegal.

Lalu, perubahan secara afektif berupa perasaan dan emosi, yakni bagaimana setiap kita mampu memaknai apa yang sudah diperoleh berupa kelebihan pendapatan untuk bisa merasakan kesusahan orang lain sehingga kita akan selalu mengingat bahwa apa yang diperoleh ada hak orang lain yang patut dikeluarkan.

Dan yang terakhir adalah perubahan secara psikomotorik. Maksudnya, perubahan perilaku dari yang setengah-setengah ingin berbagi kepada orang lain menjadi sesuatu yang menjadi kebutuhan sehingga di manapun dan tugas apapun yang dibebankan tentu akan dilakoni secara bertanggung jawab dan menjadikan pekerjaan itu sebagai ibadah yang dapat mendekatkan diri pada sang pencipta alam ini. (**)

Iklan