Pesan Perubahan di Tahun Baru 1431 H dan Tahun 2010 M

Oleh: Ulfiani Rahman, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin

Memasuki tahun baru Islam 1431 H, yang berdekatan dengan tahun baru 2010 Masehi, syarat dengan pesan karut-marut moral/akhlak “anak negeri”. Betapa tidak, di tangan sebagian para “pengendali-pengendali negeri” yang hanya memikirkan dirinya sendiri tersebut uang rakyat digerus tanpa rasa bersalah.

Sungguh suatu tragedi yang memilukan sebab kesenjangan di sekitar kita menganga seakan sulit untuk ditutup (ada yang sangat kaya, ada juga yang sangat miskin). Hal itu jelas terasa aneh mengingat negeri ini memiliki sumber daya alam yang sangat kaya.

Apakah itu akibat sistem yang berlaku dalam kehidupan berbangsa kita tidak dirancang untuk membuat penduduknya menjadi tuan di negerinya sendiri akibat dari sistem yang ditanamkan oleh penjajahan Belanda selama ratusan tahun?

Apapun jawabnya, hal itu jelas menjadi sebuah hal yang ironi. Betapa tidak, masyarakat yang menamakan dirinya miskin justru semakin memperburuk keadaannya dengan berprofesi sebagai peminta-minta, baik dari rumah ke rumah ataupun berkeliaran di jalan-jalan protokol sehingga mereka dapat membuat rumah yang jauh lebih baik dari masyarakat yang berpenghasilan secara wajar setiap bulannya.

Sejalan dengan fakta di atas, maka peringatan hari antikorupsi sedunia yang jatuh setiap 9 Desember, kali ini menjadi sangat istimewa sebab sekarang lagi marak-maraknya memperbincangkan harta gono gini negeri yang banyak hilang dan diduga dinikmati orang-orang tertentu.

Hadirnya berbagai elemen masyarakat pada hari antikorupsi tersebut mengingatkan kita pada 11 tahun silam atau tepatnya tanggal 21 Mei 1998, di mana seluruh masyarakat bersatu padu merapatkan barisan untuk satu tujuan, memperbaiki nasib bangsa dari status quo penguasa yang hampir-hampir sulit tergantikan dengan melanggengkan berbagai kebijakan yang hanya memanipulasi kesejahteraan padahal sesungguhnya penuh dengan kebohongan yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya yang tidak berdosa.

Sehingga, muncul jargon reformasi yang ingin mengembalikan nilai-nilai luhur bangsa yang termuat di dalam Pancasila dan UUD 45 secara utuh dan konkret. Perjuangan 11 tahun silam tersebut telah melahirkan empat kali pergantian presiden beserta kabinet dan kebijakan-kebijakan strategisnya masing-masing.

Namun ternyata, saat ini, arti reformasi harus direformulasi sebab tampak keluar dari substansi perjuangan, di mana nilai-nilai kebhinekaan hampir tercabik- cabik oleh oknum anak bangsa yang tidak bertanggung jawab dengan alasan menguji integritas dan kesiapan para pengaman bahkan mengkhawatirkan dengan semakin rendahnya tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemimpin bahkan ulama.

Nah, jika demikian adanya, ke mana masyarakat harus mencari perlindungan jika hukumpun sudah tidak lagi memiliki keberpihakan pada keadilan, sebab pelaku peradilanpun justru menjadi incaran pengadilan?

Oleh karena itu, memasuki tahun baru Hijriyah 1431 ini hendaknya dapat direnungi kehadirannya sebagai perjalanan yang tidak sekadar berganti tahun, atau dimaknai sebagai pergantian seluruh isi rumah (perabotnya), dari baju lama ke baju baru, atau dari rumah lama ke rumah baru untuk menghilangkan berbagai kesialan hidup seperti yang diyakini, lalu dilakukan oleh sebagian masyarakat kita.

Bahkan tahun baru hijriyah begitu bermakna sebab bukan berdasarkan pada kelahiran Nabi Muhammad saw seperti kelahiran Isa dalam kalender Masehi, lalu peringatan hari Imlek terkait kelahiran Konghucu.

Bukan pula pada kehidupan penting Nabi Muhammad saw seperti peristiwa Isra Mikraj, turunnya wahyu pertama ataupun pada perang Badar dan Uhud. Tetapi tahun baru hijriyah didasarkan pada hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Mekah ke Medinah yang diusulkan oleh Ali bin Abi Thalib lalu disetujui dan ditetapkan oleh Umar bin Khattab kemudian digunakan oleh umat Islam pada tahun 17 H dan bertepatan dengan tahun 638 M.

Jika dilihat secara substansi, maka hijrah itu sendiri merupakan titik pemisah antara Mekah dan Medinah dan menjadi titik awal perjuangan Nabi Muhammad saw menyebarkan Islam secara terbuka. Di sini pula menjadi titik pemisah antara yang hak (benar) dan yang bathil (salah); antara syirik dan tauhid; dan antara umat jahiliyah dan umat berhidayah.

Adanya kesadaran bersama memerangi berbagai keculasan sebagian pemimpin bangsa ini patut terus dipupuk dan dipertahankan sebab sama artinya sedikit demi sedikit mengurangi munculnya perilaku amoral yang berkelanjutan.

Tekanan yang diberikan akan dapat memberikan sumbangan semangat bahwa betapa negeri ini harus dibangun dengan modal bersih sehingga mungkin Tuhan akan mengirimkan keindahannya selalu pada umat manusia secara utuh.

Dengan demikian, hijrah artinya berpindah bukanlah diartikan secara fisik semata tetapi perubahan yang jika dilihat dari sisi pendidikan maka berarti perlu perubahan dari beberapa aspek. Yaitu, secara kognitif bahwa perubahan yang ada adalah pola pikir di dalam melihat berbagai persoalan bangsa seperti bagaimana mengikis keserakahan dan ketamakan untuk tidak mengambil hak orang lain secara illegal.

Lalu, perubahan secara afektif berupa perasaan dan emosi, yakni bagaimana setiap kita mampu memaknai apa yang sudah diperoleh berupa kelebihan pendapatan untuk bisa merasakan kesusahan orang lain sehingga kita akan selalu mengingat bahwa apa yang diperoleh ada hak orang lain yang patut dikeluarkan.

Dan yang terakhir adalah perubahan secara psikomotorik. Maksudnya, perubahan perilaku dari yang setengah-setengah ingin berbagi kepada orang lain menjadi sesuatu yang menjadi kebutuhan sehingga di manapun dan tugas apapun yang dibebankan tentu akan dilakoni secara bertanggung jawab dan menjadikan pekerjaan itu sebagai ibadah yang dapat mendekatkan diri pada sang pencipta alam ini. (**)

Iklan

Taujih spesial untuk Pengurus Baru Formasi

Teruslah bergerak, hingga KELELAHAN itu LELAH mengikutimu
Teruslah berlari, hingga KEBOSANAN itu BOSAN mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga KELETIHAN itu LETIH bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga KEFUTURAN itu FUTUR menyertaimu.
Tetaplah berjaga hingga KELESUAN itu LESU menemanimu
(Ust Rahmat Abdullah)

Teguh adalah nafas rijalul haq (pejuang kebenaran) sepanjang zaman.
Mereka tak hanyut di air,  tak hangus di api,  tak melayang di angin,
tak goyah oleh tumpukan harta, kemilau tahta, dan rayuan awanita.
Kiprah mereka hanya 1  : Tetap teguh dalam bergerak & terus bergerak dalam keteguhan
(Ust. Rahmat Abdullah)

Ada banyak awan, namun tak semua menjadi hujan…
Ada banyak lilin, namun tak semua menjadi lentera..
Ada banyak cahaya, namun tak semua menjadi penerang…
Ada banyak bintang, namun tak semua menjadi penunjuk…
Ada banyak embun, namun tak semua menjadi penyejuk…
Maka, lilin, cahaya, bintang, dan embun yang manakah Antum?

Setiap langkah dalam kehidupan kita adalah bukti bahwa kita pernah hidup di dunia ini.
Hari ini Allah masih berkenan memberi kita waktu untuk hidup,
lalu apa yang akan kita perbuat sebagai tanda bahwa pernah melalui hari ini.
Apa karya yang kita hasilkan? Apa langkah perbaikan diri? Apa langkah perbaikan diri?.. be productive..

Selamat meneruskan perjuangan dakwah ini dan jadilah kita generasi yng menggantikan bukan yang tergantikan

By :  Suandi Mursalin Muhammad

Taujih K.H Rahmat Abdullah Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhwah

epada cinta-

Mungkin terjadi seseorang yang dahulunya saling mencintai akhirnya saling memusuhi dan sebaliknya yang sebelumnya saling bermusuhan akhirnya saling berkasih sayang. Sangat dalam pesan yang disampaikan Kanjeng Nabi SAW : “Cintailah saudaramu secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai.” (HSR Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi, Bukhari). Ini dalam kaitan interpersonal. Dalam hubungan kejamaahan, jangan ada reserve kecuali reserve syar’i yang menggariskan aqidah “La tha’ata limakhluqin fi ma’shiati’l Khaliq”. Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluq dalam berma’siat kepada Alkhaliq. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim).

Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan dirinya pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah : “Level terendah ukhuwah (lower), jangan sampai merosot ke bawah garis rahabatus’ shadr (lapang hati) dan batas tertinggi tidak (upper) tidak melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan diri).

Bagi kesejatian ukhuwah berlaku pesan mulia yang tak asing di telinga dan hati setiap ikhwah : “Innahu in lam takun bihim falan yakuna bighoirihim, wa in lam yakunu bihi fasayakununa bighoirihi” (Jika ia tidak bersama mereka, ia tak akan bersama selain mereka. Dan mereka bila tidak bersamanya, akan bersama selain dia). Karenanya itu semua akan terpenuhi bila `hati saling bertaut dalam ikatan aqidah’, ikatan yang paling kokoh dan mahal. Dan ukhuwah adalah saudara iman sedang perpecahan adalah saudara kekafiran (Risalah Ta’lim, rukun Ukhuwah).

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah

Karena bersaudara di jalan ALLAH telah menjadi kepentingan dakwah-Nya, maka “kerugian apapun” yang diderita saudara-saudara dalam iman dan da’wah, yang ditimbulkan oleh kelesuan, permusuhan ataupun pengkhianatan oleh mereka yang tak tahan beramal jama’i, akan mendapatkan ganti yang lebih baik. “Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu” (Qs. 47: 38).

Masing-masing kita punya pengalaman pribadi dalam da’wah ini. Ada yang sejak 20 tahun terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah terganggu oleh kunjungan yang berbenturan dengan jadwal da’wah atau oleh urusan yang merugikan da’wah. Mengapa ? Karena sejak awal yang bersangkutan telah tegar dalam mengutamakan kepentingan da’-wah dan menepiskan kepentingan lainnya. Ini jauh dari fikiran nekad yang membuat seorang melarikan diri dari tanggungjawab keluarga.

Ada seorang ikhwah sekarang sudah masuk jajaran masyaikh. Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak sederhana. “Begitu harus berangkat (berdakwah-red) mendung menggantung di wajah pengantinku tercinta”, tuturnya. Dia tidak keluar melepas sang suami tetapi menangis sedih dan bingung, seakan doktrin da’wah telah mengelupas. Kala itu jarang da’i dan murabbi yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi hari. Perangpun mulai berkecamuk dihati, seperti Juraij sang abid yang kebingungan karena kekhususan ibadah (sunnah) nya terusik panggilan ibu. “Ummi au shalati : Ibuku atau shalatku?” Sekarang yang membingungkan justru “Zauji au da’wati” : Isteriku atau da’wahku ?”.

Dia mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada istrinya : “Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam da’wah. Apa pantas sesudah da’wah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan da’wah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya tapi kita pun cinta Allah”. Dia pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari. Beberapa tahun kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa tidak berangkat dan tetap tinggal dirumah? Sekarang ini keluarga da’wah tersebut sudah menikmati berkah da’wah.

Lain lagi kisah sepasang suami istri yang juga dari masyarakat da’wah. Kisahnya mirip, penyikapannya yang berbeda. Pengantinnya tidak siap ditinggalkan untuk da’wah. Perang bathin terjadi dan malam itu ia absen dalam pertemuan kader (liqa’). Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai menangis-menangis, ia sudah kalah oleh penyakit “syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga” (Qs. 48:11). Ia berjanji pada dirinya : “Meskipun terjadi hujan, petir dan gempa saya harus hadir dalam tugas-tugas da’wah”. Pada giliran berangkat keesokan harinya ada ketukan kecil dipintu, ternyata mertua datang. “Wah ia yang sudah memberikan putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?”. Maka ia pun absen lagi dan dimuhasabah lagi sampai dan menangis-nangis lagi. Saat tugas da’wah besok apapun yang terjadi, mau hujan, badai, mertua datang dll pokoknya saya harus datang. Dan begitu pula ketika harus berangkat ternyata ujian dan cobaan datang kembali dan iapun tak hadir lagi dalam tugas-tugas dak-wah. Sampai hari ini pun saya melihat jenis akh tersebut belum memiliki komitmen dan disiplin yang baik. Tidak pernah merasakan memiliki kelezatan duduk cukup lama dalam forum da’wah, baik halaqah atau pun musyawarah yang keseluruhannya penuh berkah. Sebenarnya adakah pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh ikhwah berwajah jernih berhati ikhlas ? Saya tak tahu apakah mereka menemukan sesuatu yang lain, “in lam takun bihim falan takuna bighoirihim”.

Di Titik Lemah Ujian Datang

Akhirnya dari beberapa kisah ini saya temukan jawabannya dalam satu simpul. Simpul ini ada dalam kajian tematik ayat QS Al-A’raf Ayat 163 : “Tanyakan pada mereka tentang negeri di tepi pantai, ketika mereka melampaui batas aturan Allah di (tentang) hari Sabtu, ketika ikan-ikan buruan mereka datang melimpah-limpah pada Sabtu dan di hari mereka tidak bersabtu ikan-ikan itu tiada datang. Demikianlah kami uji mereka karena kefasikan mereka”. Secara langsung tema ayat tentang sikap dan kewajiban amar ma’ruf nahyi munkar. Tetapi ada nuansa lain yang menambah kekayaan wawasan kita. Ini terkait dengan ujian.

Waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar, tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan, keteguhan dalam berda’wah lebih sedikit waktunya dibanding berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan. Kalau ada sekolah yang waktu ujiannya lebih banyak dari hari belajarnya, maka sekolah tersebut dianggap sekolah gila. Selebih dari ujian-ujian kesulitan, kenikmatan itu sendiri adalah ujian. Bahkan, alhamdulillah rata-rata kader da’wah sekarang secara ekonomi semakin lebih baik. Ini tidak menafikan (sedikit) mereka yang roda ekonominya sedang dibawah.

Seorang masyaikh da’wah ketika selesai menamatkan pendidikannya di Madinah, mengajak rekannya untuk mulai aktif berda’wah. Diajak menolak, dengan alasan ingin kaya dulu, karena orang kaya suaranya didengar orang dan kalau berda’wah, da’wahnya diterima. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu. “Ternyata kayanya kaya begitu saja”, ujar Syaikh tersebut.

Ternyata kita temukan kuncinya, “Demikianlah kami uji mereka karena sebab kefasikan mereka”. Nampaknya Allah hanya menguji kita mulai pada titik yang paling lemah. Mereka malas karena pada hari Sabtu yang seharusnya dipakai ibadah justru ikan datang, pada hari Jum’at jam 11.50 datang pelanggan ke toko. Pada saat-saat jam da’wah datang orang menyibukkan mereka dengan berbagai cara. Tapi kalau mereka bisa melewatinya dengan azam yang kuat, akan seperti kapal pemecah es. Bila diam salju itu tak akan me-nyingkir, tetapi ketika kapal itu maju, sang salju membiarkannya berlalu. Kita harus menerobos segala hal yang pahit seperti anak kecil yang belajar puasa, mau minum tahan dulu sampai maghrib. Kelezatan, kesenangan dan kepuasan yang tiada tara, karena sudah berhasil melewati ujian dan cobaan sepanjang hari.

Iman dan Pengendalian Kesadaran Ma’iyatullah

Aqidah kita mengajarkan, tak satupun terjadi di langit dan di bumi tanpa kehendak ALLAH. ALLAH berkuasa menahan keinginan datangnya tamu-tamu yang akan menghalangi kewajiban da’wah. Apa mereka fikir orang-orang itu bergerak sendiri dan ALLAH lemah untuk mencegah mereka dan mengalihkan mereka ke waktu lain yang tidak menghalangi aktifitas utama dalam da’wah? Tanyakan kepada pakarnya, aqidah macam apa yang dianut seseorang yang tidak meyakini ALLAH menguasai segalanya? Mengapa mereka yang melalaikan tugas da’wahnya tidak berfikir perasaan sang isteri yang keberatan ditinggalkan beberapa saat, juga sebenarnya batu ujian yang dikirim ALLAH, apakah ia akan mengutamakan tugas da’wahnya atau keluarganya yang sudah punya alokasi waktu ? Yang ia beri mereka makanan dari kekayaan ALLAH ?

Karena itu mari melihat dimana titik lemah kita. Yang lemah dalam berukhuwah, yang gerah dan segera ingin pergi meninggalkan kewajiban liqa’, syuro atau jaulah. Bila mereka bersabar melawan rasa gerah itu, pertarungan mungkin hanya satu dua kali, sesudah itu tinggal hari-hari kenikmatan yang luar biasa yang tak tergantikan. Bahkan orang-orang salih dimasa dahulu mengatakan “Seandainya para raja dan anak-anak raja mengetahui kelezatan yang kita rasakan dalam dzikir dan majlis ilmu, niscaya mereka akan merampasnya dan memerangi kita dengan pedang”. Sayang hal ini tidak bisa dirampas, melainkan diikuti, dihayati dan diperjuangkan. Berda’wah adalah nikmat, berukhuwah adalah nikmat, saling menopang dan memecahkan problematika da’wah bersama ikhwah adalah nikmat, andai saja bisa dikhayalkan oleh mereka menelantarkan modal usia yang ALLAH berikan dalam kemilau dunia yang menipu dan impian yang tak kunjung putus.

Ayat ini mengajarkan kita, ujian datang di titik lemah. Siapa yang lemah di bidang lawan jenis, seks dan segala yang sensual tidak diuji di bidang keuangan, kecuali ia juga lemah disitu. Yang lemah dibidang keuangan, jangan berani-berani memegang amanah keuangan kalau kamu lemah di uang hati-hati dengan uang. Yang lemah dalam gengsi, hobi popularitas, riya’ mungkin– dimasa ujian – akan menemukan orang yang terkesan tidak menghormatinya. Yang lidahnya tajam dan berbisa mungkin diuji dengan jebakan-jebakan berkomentar sebelum tabayun.Yang lemah dalam kejujuran mungkin selalu terjebak perkara yang membuat dia hanya `selamat’ dengan berdusta lagi. Dan itu arti pembesaran bencana.

Kalau saja Abdullah bin Ubay bin Salul, nominator pemimpin Madinah (d/h Yatsrib) ikhlas menerima Islam sepenuh hati dan realistis bahwa dia tidak sekaliber Rasulullah SAW, niscaya tidak semalang itu nasibnya. Bukankah tokoh-tokoh Madinah makin tinggi dan terhormat, dunia dan akhirat dengan meletakkan diri mereka dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW ? Ternyata banyak orang yang bukan hanya bakhil dengan harta yang ALLAH berikan, tetapi juga bakhil dengan ilmu, waktu, gagasan dan kesehatan yang seluruhnya akan menjadi beban tanggungjawab dan penyesalan.

Seni Membuat Alasan

Perlu kehati-hatian – sesudah syukur – karena kita hidup di masyarakat Da’wah dengan tingkat husnuzzhan yang sangat tinggi. Mereka yang cerdas tidak akan membodohi diri mereka sendiri dengan percaya kepada sangkaan baik orang kepada dirinya, sementara sang diri sangat faham bahwa ia tak berhak atas kemuliaan itu. Gemetar tubuh Abu Bakar RA bila disanjung. “Ya ALLAH, jadikan daku lebih baik dari yang mereka sangka, jangan hukum daku lantaran ucapan mereka dan ampuni daku karena ketidaktahuan mereka”, demikian ujarnya lirih. Dimana posisi kita dari kebajikan Abu Bakr Shiddiq RA ? “Alangkah bodoh kamu, percaya kepada sangka baik orang kepadamu, padahal engkau tahu betapa diri jauh dari kebaikan itu”, demikian kecaman Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai’Llah.

Diantara nikmat ALLAH ialah sitr (penutup) yang ALLAH berikan para hamba-Nya, sehingga aibnya tak dilihat orang. Namun pelamun selalu mengkhayal tanpa mau merubah diri. Demikian mereka yang memanfaatkan lapang hati komunitas da’wah tumbuh dan menjadi tua sebagai seniman maaf, “Afwan ya Akhi”.

Tetapi ALLAH-lah Yang Memberi Mereka Karunia Besar

Kelengkapan Amal Jama’i tempat kita `menyumbangkan’ karya kecil kita, memberikan arti bagi eksistensi ini. Kebersamaan ini telah melahirkan kebesaran bersama. Jangan kecilkan makna kesertaan amal jama’i kita, tanpa harus mengklaim telah berjasa kepada Islam dan da’wah. “Mereka membangkit-bangkitkan (jasa) keislaman mereka kepadamu. Katakan : `Janganlah bangkit-bangkitkan keislamanmu (sebagai sumbangan bagi kekuatan Islam, (sebaliknya hayatilah) bahwa ALLAH telah memberi kamu karunia besar dengan membimbing kamu ke arah Iman, jika kamu memang jujur” (Qs. 49;17).

ALLAH telah menggiring kita kepada keimanan dan da’wah. Ini adalah karunia besar. Sebaliknya, mereka yang merasa telah berjasa, lalu – karena ketidakpuasan yang lahir dari konsekwensi bergaul dengan manusia yang tidak maksum dan sempurna – menunggu musibah dan kegagalan, untuk kemudian mengatakan : “Nah, rasain !” Sepantasnya bayangkan, bagaimana rasanya bila saya tidak bersama kafilah kebahagiaan ini?.

Saling mendo’akan sesama ikhwah telah menjadi ciri kemuliaan pribadi mereka, terlebih doa dari jauh. Selain ikhlas dan cinta tak nampak motivasi lain bagi saudara yang berdoa itu. ALLAH akan mengabulkannya dan malaikat akan mengamininya, seraya berkata : “Untukmu pun hak seperti itu”, seperti pesan Rasulullah SAW. Cukuplah kemuliaan ukhuwah dan jamaah bahwa para nabi dan syuhada iri kepada mereka yang saling mencintai, bukan didasari hubungan kekerabatan, semata-mata iman dan cinta fi’Llah.

Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kMu.

http://banna78244.multiply.com/journal/item/36

HASIL MUSTA FORMASI I TGL 5 NOVEMBER 2009

SELAMAT DAN SUKSES KEPADA AKHINA BENI (REGULER A ANGK’ 2008 KLS C) TERPILIH MENJADI KETUA FORMASI PGSD PERIODE 2008-2009 SEMOGA MENJADI PEMIMPIN YANG AMANAH DAN BISA MEMBAWA KEMAJUAN DAKWAH PGSD FKIP UNTAN

Selamat dan Sukses atas terpilihnya akhina Beni menjadi ketua formasi periode 2009-2010

Berakhir sudah kepengurusan formasi yang lama dan kini tiba saat nya untuk masuk ke kepengurusan berikutnya, dan setelah diadakan MUSTA (Musyawarah Anggota) tanggal 5 November 2009 maka yang diamanahkan  untuk memimpin FORMASI  adalah akhina Beni (Reguler A kelas 3C Angk’ 2008).S emoga menjadi pemimpin yang amanah dan bisa membawa kemajuan dakwah di PGSD (Kampus 2 FKIP).Allahuakbar.

Riyadoh bersama formasi

Mukmin yang kuat akan lebih dicintai Allah dari pada mukin yang lemah”, berdasarkan hadits tersebut maka dengan ini kami mengajak ikwan-ikhwan pgsd untuk riyadoh bersama yaitu futsal yang insyallah akan dilaksanakan pada hari tnggal minggu, 8 November 2009 smga kita menjadi insan yang kuat fisik, rohani, keimann dan siap tempur jika ada panggilan jihad. Allhuakbar 3x sebarkan KE IKHWAN-IKWAN PGSD ye!!!!.

MIlad FORMASI Pertama sukses

Alhamdulillah milad formasi sudah selesai dan cukup memuaskan dan tabglik akbar yang disampaikan oleh bapak Amilyadi S.Ag juga sangat menarik.moga kedepan formasi semakin exist dan dakwah nya semakin berkembang.Allahuakbar.